Senada disampaikan Intan (35), warga Cengkareng yang sengaja datang bersama suami dan ketiga anaknya untuk berburu kerak telor atau jajanan khas Betawi.
Katanya, selain makanan lezat, kerak telor menjadi simbol keramahan masyarakat Betawi dalam menjamu tamu. Kehadiran kerak telor melambangkan tradisi dan kebersamaan yang masih terjaga hingga sekarang.
“Iya Pak. Saya sengaja datang ke acara ini untuk mencari kerak telor. Selain enak, kerak telor jadi lambang tradisi dan kebersamaan yang turun temurun terjaga hingga sekarang,” katanya.
Selain kerak telor, dodol betawi juga ikut diserbu pembeli atau warga.
Dengan teksturnya yang kenyal dan rasa manis yang khas, dodol betawi tetap menjadi favorit dan tidak tergantikan oleh camilan modern.
Ading (52), warga Puri Gardena mengaku sangat menyukai dodol betawi. Istrinya telah memesankan agar membelikan dodol betawi untuk ia bawa ke Cirebon.
“Rasanya enak Pak. Istri saya juga sudah pesan untuk beli dan dibawakan ke Cirebon,” katanya.
Selain dodol Betawi, Ading juga akan berburu jajajan kerak telor yang bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga sarat nilai sejarah dan identitas budaya Betawi.
Sementara itu, Kepala Suku Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (PPKUKM) Jakarta Barat, Iqbal Idham Ramid merespon keluhan pelaku UMKM yang dimintai sejumlah uang untuk bisa berjualan di pesta rakyat seperti Lebaran Betawi 2026 ini.
“Setelah saya cek, itu memang pesta rakyat yang diadakan oleh masyarakat sendiri. Artinya masyarakat untuk masyarakat. Terkait biaya-biaya….ya kembali ke panitia Bang,” kata Iqbal melalui sambungan telepon kepada Garuda 24 Jam.
Iqbal menambahkan kalau mau mengikuti kegiatan gratis, PPKUKM punya bazar-bazar gratis yang bisa diikuti oleh para pelaku UMKM yang ada di wilayah Jakarta Barat.
“Kalau mau mengikuti kegiatan yang gratis, itu juga kita punya bazar-bazar di PPKUKM, dan itu gratis semua,” pungkasnya.