jakarta

Warga Rawa Buaya Keluhkan Air PAM Bau dan Keruh, Ini Kata PAM Jaya

Kamis, 16 April 2026 | 16:03 WIB
Ilustrasi (Flip.id)

GARUDA 24 JAM - Warga di RT 05/RW 02, Kelurahan Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta mengeluhkan air PAM yang keruh dan bau. Keluhan ini langsung direspon oleh Perusahaan Air Minum (PAM) Jaya yang menyediakan dan mengelola air bersih perpipaan di wilayah Jakarta.

Perusahaan plat merah itu menyebut gangguan kualitas air terjadi akibat berkurangnya suplai air baku dari PDAM Tirta Kerta Raharja (TKR) Tangerang.

Senior Manager Corporate & Customer Communication PAM Jaya, Gatra Vaganza, menjelaskan bahwa air yang didistribusikan ke wilayah tersebut sebagian berasal dari pembelian air curah milik TKR. Air itu kemudian ditampung di reservoir sebelum dialirkan ke pelanggan.

Menurutnya, gangguan terjadi karena pasokan dari TKR sempat terdampak persoalan pada sumber air baku di wilayah Bogor, yang menyebabkan distribusi ke Jakarta ikut terganggu.

“Ini bukan masalah kualitas air secara umum, tetapi dampak sementara akibat terganggunya suplai air baku,” ujar Gatra, Rabu (15/4/2026).

Ia menjelaskan bahwa menurunnya volume air di Distribution Service Reservoir (DSR) 4 di kawasan Permata Hijau, Jakarta Selatan, menyebabkan endapan lumpur di dalam reservoir ikut tersedot ke jaringan pipa distribusi.

Kondisi inilah yang memicu air menjadi keruh dan berbau di sejumlah titik, termasuk Rawa Buaya.

Sebagai langkah penanganan, PAM Jaya telah melakukan flushing atau pengurasan jaringan pipa untuk membersihkan endapan tersebut. Selain itu, pengambilan sampel air juga dilakukan guna memastikan kualitas air kembali normal.

Pelanggan pun diimbau untuk membuka keran beberapa saat sebelum digunakan, agar sisa kotoran dalam pipa dapat terbuang.

Terkait keluhan air yang kerap tidak mengalir pada siang hari, Gatra menjelaskan bahwa wilayah Rawa Buaya berada di ujung jaringan distribusi. Kondisi ini membuat pasokan air menjadi tidak merata, terutama saat jam pemakaian tinggi.

“Di jam sibuk, air lebih dulu digunakan pelanggan yang posisinya dekat dengan reservoir. Sementara wilayah di ujung jaringan biasanya baru mendapatkan pasokan maksimal saat penggunaan menurun, seperti malam hari,” jelasnya.

Ia juga mengakui bahwa tingkat kebocoran pada jaringan pipa masih menjadi tantangan yang memengaruhi optimalisasi distribusi air ke pelanggan.

Di sisi lain, pasokan air untuk wilayah Jakarta Barat hingga kini masih sangat bergantung pada suplai dari Tangerang, termasuk dari PDAM TKR dan Tirta Benteng. Hal ini lantaran proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Karian-Serpong yang diharapkan menjadi solusi, belum rampung.

“Selama proyek tersebut belum selesai, kebutuhan air baku di Jakarta Barat masih mengandalkan pasokan dari wilayah Tangerang,” ungkapnya.

Halaman:

Tags

Terkini