• Sabtu, 18 April 2026

Pakar Sebut Eropa Tertinggal 20 Tahun dari China dalam Teknologi Baterai Mobil Listrik

Photo Author
Zahara Sitio, Garuda 24 Jam
- Jumat, 30 Januari 2026 | 13:31 WIB
Suasana pameran otomotif di Indonesia ((Foto: VOI))
Suasana pameran otomotif di Indonesia ((Foto: VOI))

GARUDA 24 JAM - Pakar Otomotif Jerman Profesor Ferdinand Dudenhöffer menyebut industri otomotif Eropa menghadapi ketertinggalan teknologi yang signifikan dalam revolusi kendaraan listrik.

Bahkan, Eropa dinilai setidaknya 20 tahun di belakang China dalam pengembangan baterai.

Akademisi yang kerap dijuluki “Paus Otomotif” oleh media Jerman itu menyampaikan penilaiannya dalam wawancara dengan Global Times. 

Dudenhöffer, yang juga menjabat Direktur Pusat Penelitian Otomotif di Bochum, Jerman, menilai posisi Eropa semakin terdesak di tengah pesatnya ekspansi produsen mobil China di pasar global.

Komentar tersebut muncul seiring lonjakan penjualan mobil listrik asal China di Eropa. Pada Desember 2025, volume penjualan bulanan produsen China untuk pertama kalinya menembus 100.000 unit, dengan pangsa pasar mencapai 9,5 persen.

“Di sektor baterai, Eropa tertinggal 20 tahun dari China,” kata Dudenhöffer, dilansir dari Carnewschina, dikutip dari VOI, Jumat (30/1/2026).

Ia menegaskan, ketergantungan pada pemasok China kini tak terelakkan bagi produsen Eropa agar tetap kompetitif. Pada 2025, lebih dari 70 persen baterai kendaraan listrik yang dijual di Eropa dipasok oleh perusahaan China.

Baca Juga: Presiden Donald Trump Bakal Deportasi Massal WN Iran dari AS

Keunggulan biaya menjadi faktor utama dominasi tersebut. Produsen China mampu memproduksi baterai dengan biaya sekitar 30 persen lebih rendah, sekaligus memangkas siklus pengembangan hingga 50 persen dibanding kompetitor Eropa.

Sebaliknya, industri baterai Eropa masih terseok. Northvolt asal Swedia dilaporkan menghadapi kebangkrutan akibat persoalan teknis dan keterlambatan pengiriman, sementara Automotive Cells Company (ACC) dari Prancis menunda rencana ekspansi pabriknya.

Perusahaan baterai China pun tak sekadar menjadi pemasok, tetapi mulai membangun basis produksi langsung di Eropa. CATL melalui usaha patungan dengan BMW telah memulai produksi di Jerman.

Sementara BYD bekerja sama dengan Stellantis mengembangkan baterai lithium besi fosfat berbiaya rendah yang kini sudah memasuki tahap produksi massal. Ketertinggalan teknologi Eropa, menurut Dudenhöffer, juga merambah sektor lain di luar baterai.

“Perusahaan-perusahaan China di bidang seperti pengemudian otomatis dan kokpit pintar, seperti QCraft, Horizon Robotics, Xiaomi, dan Huawei, memimpin tren ini dan bukannya didominasi oleh produsen Eropa dan Amerika,” pungkasnya.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Zahara Sitio

Tags

Terkini

X