GARUDA 24 JAM - Pembukaan Selat Hormuz belum benar-benar jelas. Setidaknya, lebih dari 800 kapal masih tertahan di perairan Teluk Arab meski ada kesepakatan gencatan senjata yang disebut dapat membuka kembali Selat Hormuz.
Rincian kesepakatan itu dikabarkan juga belum sepenuhnya jelas sehingga banyak pemilik kapal belum berani menggerakkan armadanya.
Para pemilik kapal kini, dilaporkan Arab News dikutip Rabu 8 April, berupaya memahami detail pasti kesepakatan yang berpotensi membuka sementara jalur pelayaran penting tersebut.
Mereka berharap ada ruang untuk memindahkan kapal-kapal yang selama berminggu-minggu tertahan di sekitar selat.
Penutupan hampir total Selat Hormuz telah mengganggu pasokan energi global.
Setelah perang yang dipicu serangan Amerika Serikat dan Israel, Iran menguasai selat itu. Sejak itu, lalu lintas kapal melambat tajam karena tidak ada jaminan keselamatan bagi awak kapal dan muatan setelah sejumlah serangan terjadi.
Kesepakatan gencatan senjata diumumkan pada Selasa, beberapa jam sebelum batas waktu yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump berakhir. Sebagai bagian dari kesepakatan itu, selat dijanjikan dibuka kembali.
Namun, versi kedua pihak masih berbeda. Iran menyatakan setuju pada pelayaran aman selama dua pekan yang dikoordinasikan dengan angkatan bersenjatanya dan tetap tunduk pada “pembatasan teknis”.
Sementara itu, Trump mengumumkan pembukaan yang “penuh, segera, dan aman”.
Hingga kini juga belum jelas apakah kedua pihak sudah sepakat soal biaya yang dikenakan Teheran.
Pelaku industri pelayaran menyambut kabar itu dengan hati-hati.
Masih melansir laporan Arab News, Asosiasi Pemilik Kapal Jepang, misalnya, menyatakan akan memverifikasi rincian kesepakatan lebih dulu sebelum menyampaikan informasi lanjutan.
Mereka juga mengingatkan bahwa arus pelayaran global tidak bisa pulih seketika.
Dalam kondisi normal, sekitar 135 kapal melintasi Selat Hormuz setiap hari. Angka itu kini turun tajam.