GARUDA 24 JAM - Jutaan warga Amerika turun ke jalan melakukan aksi unjuk rasa nasional 'No King'.
Xin Hua, kantor berita resmi pemerintah RRT, pada Minggu, 29 Maret melaporkan aksi ini membawa dua isu, pertama terkait kebijakan imigrasi, dan kedua tentang perang yang sedang berlangsung dengan Iran.
Aksi unjuk rasa ini dilaporkan dilakukan lebih dari 3.100 aksi di berbagai kota, termasuk Washington D.C., New York, Boston, Los Angeles, dan San Francisco.
Sejumlah media AS memperkirakan aksi itu melibatkan sekitar 900.000 orang, menjadikannya unjuk rasa satu hari terbesar yang pernah tercatat. Penyelenggara menyebut dua gelombang sebelumnya juga menyedot massa besar, masing-masing lebih dari 5 juta orang pada Juni dan 7 juta orang pada Oktober 2025.
Aksi utama berlangsung di Capitol Negara Bagian Minnesota di Saint Paul.
Penyelenggara menyebut hampir 100.000 orang hadir meski cuaca dingin, sementara Patroli Negara Bagian mengonfirmasi sedikitnya 50.000 peserta.
Menurut penyelenggara, seperti dilaporkan Xin Hua, protes dipicu aksi militer AS di Iran, kematian dua warga AS pada Januari yang melibatkan agen ICE di Minneapolis, serta apa yang mereka sebut sebagai kekuasaan berlebihan pemerintahan Donald Trump.
Aksi ini didukung sejumlah kelompok, termasuk Indivisible, MoveOn, American Civil Liberties Union, dan American Federation of Labor and Congress of Industrial Organizations.
Senator independen Bernie Sanders, yang menjadi pembicara utama di Saint Paul, menyerang keras kebijakan perang AS. Ia mengatakan warga Amerika pernah dibohongi soal perang Vietnam dan Irak, dan kini kembali dibohongi soal Iran.
“Perang ini harus segera dihentikan,” katanya seperti ditulis Xin Hua.
Gubernur Minnesota Tim Walz juga menuntut keadilan bagi Renee Good dan Alex Pretti, dua korban tewas dalam insiden Januari yang dikaitkan dengan ICE. Musisi Bruce Springsteen ikut tampil dan memuji perlawanan warga Minnesota terhadap kebijakan imigrasi pemerintah.
Di New York, aksi berlangsung di lima wilayah kota. Di Manhattan, puluhan ribu orang berbaris di sepanjang Seventh Avenue sambil membawa poster bertuliskan “No ICE”, “No Kings”, dan “No Wars”.
Aktor Robert De Niro, salah satu penyelenggara, menyebut tidak ada presiden sebelum Trump yang menghadirkan ancaman sebesar itu terhadap kebebasan dan keamanan warga Amerika.
Gelombang protes juga meluas ke Washington, kawasan Teluk San Francisco, Sacramento, hingga Arizona. Di Sacramento, unjuk rasa berlangsung di tengah lonjakan harga bahan bakar setelah operasi militer AS terhadap Iran pada 28 Februari.