internasional

Paskah Perdana Paus Leo XIV Dibayangi Perang Timur Tengah

Rabu, 1 April 2026 | 21:24 WIB
Paus Leo XIV (Foto: Instagram @pontifex)

GARUDA 24 JAM - Paus Leo XIV akan menjalani Paskah pertamanya sebagai pemimpin Gereja Katolik dalam suasana yang jauh dari tenang.

Saat Vatikan bersiap menyambut ribuan umat, perang di Timur Tengah justru membuat Pekan Suci tahun ini terasa muram, terutama bagi komunitas Kristen di kawasan itu.

The Straits Times dilansir Rabu, 1 April melaporkan, ketegangan sudah terasa sejak awal Pekan Suci.

Patriark Latin Yerusalem, Kardinal Pierbattista Pizzaballa, ditolak masuk ke Gereja Makam Kudus di Yerusalem oleh otoritas Israel. Ia menyebut peristiwa itu sebagai kejadian pertama “dalam berabad-abad”.

Pada 31 Maret, Paus Leo mengatakan ia berharap Presiden Amerika Serikat Donald Trump “sedang mencari jalan keluar” untuk mengakhiri perang.

Ia juga kembali menyerukan penghentian kekerasan.

“Kita sedang berada dalam Pekan Suci, Paskah akan datang, dan seharusnya ini menjadi masa paling suci dalam setahun,” kata Paus Leo.

Namun, menurutnya, dunia justru menyaksikan “begitu banyak penderitaan, begitu banyak kematian, bahkan kematian anak-anak yang tidak bersalah”.

Paskah ini juga menjadi momen emosional bagi umat Katolik karena bayang-bayang Paus Fransiskus masih sangat dekat. Tahun lalu, Pekan Suci menjadi rangkaian penampilan publik terakhir paus asal Argentina itu. Ia meninggal pada Senin Paskah, setelah sempat terakhir kali berkeliling Lapangan Santo Petrus dengan popemobile. Paus Leo kemudian terpilih sebagai penggantinya pada 8 Mei 2025.

Sorotan utama tahun ini akan tertuju pada berkat “Urbi et Orbi” yang akan disampaikan Paus Leo pada 5 April dari Basilika Santo Petrus.

Pesan itu biasanya bukan hanya bernada rohani, tetapi juga sarat sikap politik. Sejauh ini, paus kelahiran Amerika Serikat berusia 70 tahun itu memang tampak berhati-hati. Ia belum secara langsung mengecam peran negaranya sendiri dalam gejolak Timur Tengah.

Namun saat Misa Minggu Palma pada 29 Maret, ia mengungkapkan penyesalan atas penderitaan umat Kristen di Timur Tengah yang, dalam banyak kasus, tak bisa menjalani ritus hari-hari suci secara penuh.

The Straits Times menulis, suasana muram paling terasa di Lebanon selatan, tempat desa-desa Kristen berada di garis depan serangan Israel terhadap Hizbullah.

Direktur Jenderal L’Oeuvre d’Orient, Hugues de Woillemont, mengatakan banyak warga takut pergi karena khawatir tak bisa pulang lagi jika wilayah itu diduduki.

Halaman:

Tags

Terkini